13. What They Called Fallin’ In Love

Posted in Dear Diary on September 9, 2009 by dewicahaya

bagi teman-teman yang baru mengunjungi blog ini sebaiknya membaca mulai dari post pertama ya!!

Saat kau sedang jatuh cinta semua terasa berubah. Pagi yang rutin tersaji terasa ganjl seakan ada yang berbeda. Cinta memberi nuansa yang lain pada jiwa dalam memaknai pagi. Rindu memberikan kapasitas yang berbeda pada waktu, sehingga detik seakan mengembang luas menjadi lebih jemu. Saat paling lama dalam hidupmu justru menunggu dering telepon selamat pagi yang rutin menyapa, Kicauan terindah bagimu adalah sapaan halo yang terucap renyah diseberang sana. Pagiku berbeda karena adanya dewi yang mengisi mimpi dan menjadi pembuka hari.

12. Tentang Dewi

Posted in Dear Diary on September 9, 2009 by dewicahaya

bagi teman-teman yang baru mengunjungi blog ini sebaiknya membaca mulai dari post pertama ya!!

Nampaknya aku belum bercerita tentang dewi ya??

Secara fisik dewi bagiku adalah anak yang menarik, mungil dengan tinggi sekitar 155 cm, tipikal anak yang aktif tapi manja. Saat pertama kau melihatnya jika bertemu ditempat umum yang terpikir Cuma dia adalah anak orang kaya(wajar, mengingat cara dia berpakaian). Dewi bukan tipikal gadis yang pemilih, dia punya banyak teman akrab(walaupun hampir semuanya wanita). Namun karena suatu sebab dia selalu diantar jemput oleh supir pribadi keluarganya(entah kenapa aku juga tidak tahu).

Sejujurnya seandainya aku bertemu dewi ditempat umum(bukan disekolah) pasti aku akan mundur, terima kasih kepada kaum pendahulu yang menciptakan konsep baju seragam sehingga dapat meleburkan perbedaan kasta dalam kebersamaan citra. Hal yang paling menarik selain fisik bagiku adalah sifatnya yang kekanak-kanakkan, dia selalu berusaha bersikap dewasa tetapi tidak dapat menghilangkan tingkahnya yang menggemaskan. Itulah kenapa dewi sering menjadi pusat perhatian dan godaan teman-temannya.

Dewi pernah bercerita, kenapa dia tidak merespon ketika aku pertama kali mengajaknya berkenalan. Dewi memandang aku seperti umumnya laki-laki dalam pandangan para gadis. Selalu berfikiran kotor dan mengajak kenalan hanya untuk bermain-main. Untunglah sikapku yang humoris sedikit banyak mengubah pandangannya terhadapku, belum lagi cerita teman-temannya tentang kami (paling tidak menurut pengakuannya).

Faktor lain yang membuat kami gampang akrab adalah kesamaan hobi. Hobiku membaca serta selera musikku yang aneh sedikit banyak menjadi pencair suasana dan topik obrolan ngalor ngidul yang paling seru. Saat kami kehabisan pembicaraan, musik dan buku menjadi tali penyambung materi yang takkan pernah habis. Bayangkan teman. pada waktu kencan pertamaku kemarin dengan dewi justru kami habiskan di toko buku dan musik, bukannya di tempat makan romantis yang umum dilakukan(entah apa yang dia pikirkan, tapi aku menganggap episode jalan-jalan kami kemarin adalah kencan).

Kencan pertama kami berawal dan berakhir dengan aneh, entah apa yang terjadi selanjutnya.

11. nuansa pagi yang berbeda

Posted in Dear Diary on August 20, 2009 by dewicahaya

bagi teman-teman yang baru mengunjungi blog ini sebaiknya membaca mulai dari post pertama ya!!

Rabu xx-xx-20xx (di pagi yang indah)

Pernahkah kau mengalami apa yang kau bayangkan berbeda dengan kenyataan, segala yang diprediksi bertolak belakang dengan apa yang kau alami? Aku pernah merasakannya. Perubahan itu terjadi kemarin, saat aku mendatangi sekolah dewi. Aku membayangkan keadaan memalukan akan menimpa, atau dewi pulang terlebih dahulu. Namun ternyata semua berbeda, untungnya ke arah yang lebih baik.

Ternyata dewi masih menungguku bersama teman-temannya walau jelas terlihat dia agak malu dengan mereka yang terus menggodanya. Aku melihat mereka memperlakukan dewi seperti adik kecil yang mengasikkan untuk digoda. Dewi merespon dengan tingkahnya yang lucu dan kekanak-kanakkan.

Bayangkan gadis semanis itu sebal dan merengut hingga pipinya menggembung, saat dia tidak bisa membantah dia mencubit gemas lengan beberapa teman yang menggodanya. Sifat yang kekanak-kanakan itu malah membuat dewi begitu menarik dibanding teman-temannya dimataku.

Pagi ini seakan menjadi titik awal lembaran baru dalam hidupku yang menyajikan menu berbeda. Ada dering HP sebagai pembuka obrolan ringan Selamat Pagi, ada tawa renyah yang menyejukkan hati ketika kami berbagi cerita tentang aktifitas saat ini, dan ada kedamaian lain yang tersaji di ruang jiwa.

“Kamu lagi ngapain sekarang?.”
“Lagi meluk Shiro(nama gulingnya, dewi memang punya kebiasaan untuk memberi nama-nama lucu untuk barang-barang yang dia punya). Mas lagi ngapain?”
“ihh… Manja banget, kalo pagi-pagi kamu kemul(berselimut) ntar kamu tambah kedinginan lho…!”
“yeee… emang dingin kok, makanya aku kemulan(selimutan). Mas udah sholat belum?”
“udah kok, kamunya paling yang belum…!!”
“Iya deh, aku mandi dulu, mas siap-siap juga ya”
Aku Cuma tersenyum sendiri
“nanti bisa ke sekolah nggak!!”
“Insya Allah ya, assalamualaikum”
“Waalaikum salam” jawabnya lirih
bisikan halus dalam secara sekejap mampu menceritakan isi ruang hati berikut pernak-pernik dan asesoris didalamnya. Mungkin adakalanya sekali-kali kita tebarkan impian sejauh cakrawala.

10. kencan pertama

Posted in Dear Diary on July 11, 2009 by dewicahaya

bagi teman-teman yang baru mengunjungi blog ini sebaiknya membaca mulai dari post pertama ya!!

Selasa xx-xx-20xx (hari yang sama)

Diperjalanan dewi yang lebih banyak bertanya tentang kesibukanku, juga alasan mengapa kami “berburu” pacar disekolahnya. Waktu kujawab tentang 2 kriteria konyol yang kami pakai dia tertawa sambil bilang “ngawur”, entah kenapa dia suka mengucapkan kata itu. Mungkin karena aku yang ngawur dan asal ngomong, atau cuma kebiasaannya saat kehabisan kata-kata. Tapi mau yang manapun aku tak peduli, paling tidak ini bisa dibilang “kencan” pertama kami.

Pada awalnya dewi ingin pergi ke toko G, namun aku mengusulkan kami ke toko T.M saja. Karena menurutku koleksi disana lumayan lengkap, selain itu juga harga yang lebih miring tentunya. Ingin aku mengajak dia ke Jl. S atau Jl. B, namun kupikir belum tentu gadis seperti dia berminat dengan buku bekas(tidak seperti aku mahasiswa yang suka membeli buku ditengah kondisi ekonomi pas-pasan tentu barang bekas pun tak jadi masalah).

Sebelum menuju toko TM yang ada di lantai atas Dewi menyempatkan diri untuk mampir ke Toko Kaset. Disana aku membeli kaset Alter Bridge-One day remain, sementara dewi memilih di daftar CD.
“Mas beli kaset apa?”
“Kaset rock, alter bridge. Dulu ini band namanya Creed tapi ganti nama setelah vokalisnya cabut!!” nampaknya dia kurang tertarik, dan langsung mengalihkan perhatian.
“kira-kira klo aku mana yang bagus ya mas?”
“kamu suka new age ato celtic??.”
“band rock ya?.”
“bukan, itu nama aliran musik. Bagus buat rileks, yang lumayan dikenal di indonesia kayaknya sarah brighman!!”
aku mencari CD yang kumaksud dan tidak berhasil aku dapatkan, tapi aku mendapat CD lain yang sealiran. Enya – A Day Wihout Rain.
“mas nggak dapat cdnya, tapi yang ini juga sealiran. Coba kamu dengar dulu”
dia menerima cd ku, mungkin dia lebih tertarik dengan Covernya daripada iklan murahanku.
“trus ada lagi nggak?”
“Kalau Backstreet Boys kamu suka? Tadi aku ada liat album barunya, Nevergone”
“Haaah… mas dengerin Backstreet Boys…???”
“Iya, aku udah punya kasetnya. Lumayan bagus album ini, walaupun masih bagusan Millennium!!”
“Mas Aneh deh…!!!”
akhirnya dia membeli CD Enya dan Backstreet Boys yang aku rekomendasikan. Sementara di TM dia membeli buku HARRY POTTER, sedangkan aku membeli Clash Of Civilitation.
“kamu mau aku anter pulang!”
“Nggak ah, ngerepotin aja…!!!”
hampir aku putus asa, namun kali ini kubulatkan tekad untuk mengantarkannya.
“Nggak banget kok, aku kan dipinjemin motor. Lagipula aku diamanatin ama anak-anak buat antarin kamu kan.!”
dia berfikir lama, nampaknya dia ragu. Cepat kutarik tangannya, dan untungnya dia tidak menolak. Ternyata dia tinggal di salah satu kawasan elit di kota S, wajar saja jika biasanya dijemput dengan mobil. Sewaktu kuantar sampai depan pintu kami disambut oleh ibunya, seorang wanita cantik yang anggun. Setelah berbasa-basi sejenak aku pamit untuk pulang, kutolak secara halus tawaran untuk mampir kedalam. Kecut juga menghadapi keluarga kaya yang ramah ini. Sengaja tidak aku ungkit mengenai buku Supernova yang dewi pinjam, seraya berharap itu bisa dijadikan alasan untuk menemuinya kelak.

Malamnya dewi menelponku lagi
“Mas, makasih ya tadi siang. Aku sukaa banget ama album enya ini, pertama denger aku merinding, tapi habis itu asik buat temen baca. Album backstreet boysnya juga bagus banget. Pokok’e aku suka semuanya…!!!”

nampaknya ini merupakan hari keberuntungan bagiku, seraya berharap hal ini akan berlanjut untuk seterusnya.

09. Hari yang mengejutkan

Posted in Dear Diary on July 11, 2009 by dewicahaya

bagi teman-teman yang baru mengunjungi blog ini sebaiknya membaca mulai dari post pertama ya!!

Selasa xx-xx-20xx

“Hebat man, aku gak nyangka kemarin santi minta no kamu. Katanya dewi yang nyuruh!!”
“gokil abis loe man, gw kira loe bakal jadi pecundang. Ternyata bukannya loe yang minta nomor, malah dianya yang nyari info tentang loe!!”
Janc**, arek iki meneng-meneng matheni c*k(anak ini diam diam mematikan)!!”
entah berapa pujian lagi yang mengalir, aku tak peduli. Sekarang aku tengah mempersiapkan diri menghadapi segala kenyataan bisa saja terjadi. Mungkin saja nanti mereka mengetahui kejadian yang sebenarnya, hingga pujian ini bisa berbalik menjadi tawa panjang. Yah teman-temanku memang tidak jahat, bahkan kami sangat akrab. Tetapi saat mereka mengejek akan sangat memalukan.
Dalam perjalanan aku melihat jam di HP ku, nampaknya kami terlambat. Waktu pulang sekolahnya sudah lewat 15 menit lalu. Saat kami tiba pasti Dewi sudah dijemput pulang.
“ntar klo di Karmen aku turun ya!!” kataku pada teman yang aku bonceng.
“emang knapa?”
“kayaknya juga klo kita sampai Dewi juga udah pulang, jadi gak usah aja deh. Aku mau ke Toga Mas aja nyari buku!!”
“oh… Tadi Ricky wis (sudah) sms Ira kok klo kamu mau ikut, pasti si Dewi pasti nunggu!!”
“nunggu dari hongkong??? dia dijemput tau, bukan naik angkot…”
“Udahlah man, ikut aja. Pasti dia nunggu, lha wong arek’e sing nggoleki kowe (dia yang nyari kamu)!!!”
Akupun mengalah, dan ternyata dia benar. Dewi masih menunggu dengan teman-temannya di salah satu warung, nampaknya mereka memang sudah berjanji sebelumnya. akupun menyapanya disamput oleh koor dari teman-teman yang menggoda kami. Kubawa dewi sedikit menjauh dari mereka, karena kulihat dia merasa agak risih dan malu mendengar godaan dari mereka.

Kumohon berpura-puralah tak ada kejadian yang tempo hari tercipta, paling tidak jagalah harga diriku yang sudah hampir tak tersisa ini. Entah kenapa walau kupikir anak ini seolah mempermainkanku, namun matanya tidak memperlihatkan niat jahat.
“Kamu masih belum pulang?” tanyaku sambil menyerahkan minuman mineral yang biasanya dia beli.
“Tadi aku udah telp cak man(nama supirnya), tak bilang aku pulang sendiri mau beli buku.!!”
“Buku apa?.”
“nggak tau, nyari-nyari aja (dasar aneh).!!”
“mau aku anterin?? pake mobil juga.!!”
“mas’e kan tadi naik motor karo arek-arek(dengan teman-teman)?.”
“iya, ntar aku anter naik angkot!!”
“yeee…!!”
“Mau nggak??? yah… wajar sih kalau anak orang kaya nggak mau naik angkot. Nggak level sih!!” sindirku.
“mmm… bukannya gitu sih… mmm…(berfikir sejenak) yawdah, tapi jangan macem-macem ya…!!!” ancamnya sambil mengacungkan tinju.
“yaelah…curigaan banget sih…!!!” kataku sambil tertawa melihat tingkahnya yang sudah tidak canggung lagi.
Aku langsung mengajaknya pamit pada teman-teman kami.
“bro… kowe (kamu) bawa aja motorku!!”
“nggak usah mas, kita naik angkot aja!!”
“aku nggak kasihan karo kowe (dengan kamu), tapi dewi bisa trauma nyium keringat kowe di angkot” katanya tertawa sambil menyerahkan kunci dan stnk.
“tapi aku gak bawa helm lho mas!!” tolak dewi
“tenang aja wi, kita tau jalan tikus kok!!” kata Rizal sambil mendorong aku dan Dewi pergi. Dewi meminjam helm Rizal, sementara aku memakai helmku sendiri.

08. Hujan Dihatiku

Posted in Dear Diary on June 29, 2009 by dewicahaya

bagi teman-teman yang baru mengunjungi blog ini sebaiknya membaca mulai dari post pertama ya!!

Minggu malam xx-xx-20xx (malam yang sama)

Malam ini hujan turun deras, rinainya membasahi kaca membentuk bayang dewi. Entah kenapa aku malah memikirkannya, menguak rasa malu beberapa minggu lalu yang membuatku malu. Aku sadar keadaan menjadi seperti ini disebabkan oleh keputusanku sendiri. Biasanya saat galau aku keluar memandangi bintang-bintang namun malam ini kan hujan, kalau toh langit cerah, sinar bintang akan tersaingi oleh gempita lampu metropolitan. Dan sialnya hujan malam ini malah membentuk siluet wajahnya, semakin membuatku tidak mengerti dengan perasaanku sekarang. Ada baiknya aku mendatanginya lagi, paling tidak untuk mengobati rasa penasaran. Toh dewi juga tidak membocorkan keadaanku kemarin dengan teman-teman, nampaknya dia juga murni ingin mengembalikan buku.

Yah… paling tidak mengambil buku yang sudah dia pinjam bisa menjadi alasan bagus. Sayup kudengar teman kostku menikmati hujan dengan memutar lagu Hujan di Hatiku milik netral. Mereka tidak menyadari betapa lagu itu mengena di hatiku saat ini.

Aku sms Ricky untuk bilang hari selasa ini aku ikut mereka ke sekolah Dewi.

07. Telepon Pertama

Posted in Dear Diary on June 29, 2009 by dewicahaya

Minggu malam xx-xx-20xx (dua minggu kemudian)

sudah beberapa hari ini aku tidak menemui dewi lagi, tidak ada perubahan mendasar dalam kehidupanku. Semuanya berjalan wajar-wajar saja, teman-temanku juga tidak pernah mengungkit masalah ini setiap kali kami bertemu (kami memang beda fakultas). Bisa dibilang aku sudah hampir melupakan dia (gengsi rasanya untuk mengambil buku yang dia pinjam, biarlah nanti aku beli lagi), sampai sebuah nomor tidak dikenal masuk di hp ku.
“Alluuu!!”
“Halo, mas doni ya?”
“Capa nihh?”
“Supernovanya bagus ya, aku suka sama tokoh diva lho!!!”
“Oh… dewi ya?” aku terkejut, tidak menyangka dialah yang akan menghubungiku
“Kirain udah lupa, mas sibuk banget ya sekarang?kok nggak pernah datang lagi, aku kan sulit buat balikin bukunya!!” ternyata dia menghubungi hanya untuk mengembalikan buku, untunglah aku tidak berfikiran macam-macam.
“Iya, lagi banyak tugas nih. Kamu bisa titipin sama Ira, ntar dia yang kasih ke ricky!!”
“Aku ada salah ya sama mas?”
“salah apa??”
“nggak kok….(ada jeda yang cukup lama, kami cuma saling diam), ehh.. udah dulu ya mas. assalamualaikum!!!”
klik…

kucoba untuk menghubunginya lagi, ternyata panggilanku langsung dijawab oleh si cantik Veronica
“Pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan…!!!”

06. Sang (Pangeran?) Kodok

Posted in Dear Diary on June 24, 2009 by dewicahaya

Selasa xx-xx-20xx (hari yang sama)

Di angkot pikiranku sudah melayang tak karuan, rasanya ingin kusumpahi segala yang ada. Angkot ini cukup sepi, namun tidak cukup lapang untuk menampung pikiranku yang dipenuhi berbagai hal. Semakin aku bayangkan dewi, malah terpikir dia sekarang sedang menelpon teman-temannya. Saling bertukar cerita tentang hari ini, sampai saat dewi bercerita bagaimana aku dipencundangi oleh keangkuhanku sendiri. Seekor kodok yang berdandan seperti pangeran tetaplah kodok, jangan berharap putri mau menciumnya. Dongeng tetaplah dongeng, cerita yang mengurangi bobot tubuhmu hingga kau mampu melayang melintasi khayal. Dan kenyataan akhirnya mencambuk pantatku hingga ku tersadar, terhempas di kenyataan yang menyakitkan. Menyebalkan… ternyata aku masih seekor kodok.

Pangeran kodok di kaca pintu angkot tertawa seraya mengejek, kemana perginya kepercayaan dirimu tadi? Bukankah kau tadi sedang menaiki kereta kencana? kau juga yakin dia yang berharap kau datang? Bahkan kau berhalusinasi pipinya memerah saat bertatapan denganmu. Sadarlah kawan, keangkuhanlah yang butakan matamu. Hingga selama ini kau tidak menyadari semua isyarat agar kau segera enyah darinya. Aku berdoa kalau memang Dewi bercerita dengan teman-temanya, semoga tidak ada berita berantai yang masuk telinga teman-temanku. Bisa-bisa aku hancur, tidak hanya hitungan hari. Tapi bakal jadi bahan ejekan seumur hidup.

SIAAAL…!!!

05. Buku Homo???

Posted in Dear Diary on June 24, 2009 by dewicahaya

Selasa xx-xx-20xx (Hari Yang Sama)

Siang itu aku tiba terlalu cepat, hampir 1 jam aku harus menunggu saat pulang sekolahnya. Walaupun terbersit keinginan untuk segera pergi saja dari sini, toh juga belum tentu dewi memang tertarik padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu, kepalang tanggung untuk pulang. Untunglah aku membawa buku sebagai pengisi waktu luang.

Sewaktu sedang membaca terdengar suara halus yang mengejutkanku.
“Mas Doni nunggu aku ya??” ternyata dia berdiri dibelakangku sambil tersenyum.
“Nggak kok…. ehhh iya” aku tak tahu harus berkata apa saat tahu dia yang langsung menyapaku. Mungkin berlebihan, tapi aku anggap dialah yang berharap aku datang menemuinya. Dia tersenyum geli melihat aku yang biasanya selalu bisa mengelak kini kehabisan kata-kata.
“Lagi baca apa mas? Seru banget kayaknya?” tanya dewi sambil langsung duduk disampingku.
“Supernova, bukunya Dewi Lestari!!”
“Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh? Mas suka dongeng ya?”
“waktu kecil sih iya, tapi ini bukan buku dongeng!!” kataku sambil menyerahkan buku itu.
“Bagus ya?”
“Bawa aja kalau kamu mau baca, aku udah sering baca kok!”
dia membaca beberapa halaman, tersenyum sewaktu membaca kata pengantarnya. Ekspersinya menggemaskan dan berubah-ubah.
sampai…
“Ihhh cerita homo ya??? aneh ahh!!!”
“Yeee… baca dulu separo Non, pasti nanti kamu suka!”
dia diam
“Udah, bawa aja dulu!!”
“Mas gak apa-apa pinjemin ke aku? Gak takut hilang?”
“Aku percaya kok sama kamu!!”

Sempat ada jeda beberapa saat, tapi entah kenapa semua serasa terhenti. Cuma mata kami yang saling bertukar pandang. Semua asap dan pekat polusi disekitarku seperti berubah menjadi aroma embun saat aku bertatatapan dengannya. Momen yang singkat itu berakhir ketika dia palingkan wajahnya untuk memasukkan bukuku ke dalam tas, walau sekilas aku sempat melihat pipi yang mulai memerah.

“mas kemarin sempat mau dikasih Ira no HP ku ya? Trus kata Ira mas nolak, kenapa?”
“Soalnya aku janji sama kamu bakal minta langsung ke kamu nya!”
“Bukan janji mas, tapi mas yang maksa. Yeee!!!”
“kan kamu mau tau sampai kapan aku maksa!!”
“aku juga gak ada janji lho bakal ngasih ke mas!!” sahutnya sambil tersenyum jahil.
Kata-katanya kembali membuat aku tercekat, seolah olah sudah melumerkan sisa harga diriku yang tersisa. Kali ini sudah habis semua tak bersisa, dia sudah buktikan kepadaku bahwa memang aku saja yang geer selama ini. Tidak menyadari semua penolakan halus yang sudah dia keluarkan. Paling tidak ini masih untung, daripada dia menolakku dengan mengenalkan diri pada seseorang seraya berkata
“Kenalkan mas, ini cowokku!!”

Kubayar minumanku dan langsung pamit, aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Kini sudah cukup, lebih baik aku bangun sekarang daripada kelak melukai diri sendiri. Ego untuk mempertahankan harga diri ini mungkin malah akan membuatku makin tenggelam.
Kuputuskan untuk tidak menemuinya lagi, dia gadis yang baik. Dia sudah memperingatkan aku untuk tidak mendekatinya, cuma aku yang baru mengerti.

04. Sang Pangeran Kodok

Posted in Dear Diary on June 17, 2009 by dewicahaya

Selasa xx-xx-20xx

Kupandangi diriku pada kaca angkot, memang wajahku tak bisa dibilang menarik. Mungkin kalau dinilai secara objektif aku hanya akan mendapat nilai 6, ditopang dengan fisik yang sedang, kulit hitam, wajah pas-pasan tak terawat(karena tak cukup biaya perawatan, kalau toh ada biaya lebih biasanya terpakai untuk membeli buku). Berdasarkan kriteria diatas aku sadar harus bersyukur di ambang batas cowok pas-pasan, tidak sampai jatuh menjadi cowok mengenaskan.

Lalu kenapa aku masih ngotot mengejar dewi? Sosok yang seperti namanya, bertempat jauh di awang-awang. Dengan hanya melihat mobil penjemputnya saja aku sadar, dia mungkin tipe cewek yang tidek pernah merasa kelaparan(kecuali sewaktu puasa), dapat memenuhi semua kebutuhan finansialnya (bahkan sampai yang dia tidak butuhkan), juga menjadi incaran banyak pria(baik manusia maupun dari kalangan buaya). Cukup dengan tersenyum dan menutup pintu mobilnya saja sudah menjadi peringatan bagi kaum pria sekelasku (baik kasta maupun rupa) untuk menyadarkan diri dari mimpi.

Lalu kenapa kamu masih nekad? Mungkin kalian bertanya begitu di dalam hati. Percayalah, bukan karena kata-kata manis dari Ira tempo hari. Bisa jadi ira hanya bermaksud untuk membesarkan hatiku saja, atau malah mempersiapkan diri untuk tertawa terpingkal-pingkal saat melihat adegan aku yang terbatuk-batuk dikentuti knalpot mobil Dewi.

Mungkin yang menguatkanku sampai saat ini untuk tetap menemuinya adalah sebentuk harga diri yang tinggal secuil ini, sekeping janji untuk terus berusaha mendapatkan kepercayaan menyimpan nomor hp miliknya, bukankan cinderella bisa menjadi putri dan kodok bisa menjadi pangeran?.

Angkotku, eh kereta kencanaku pun tiba di depan gerbang sekolahnya.